SEKOLAH LISAN (LINGKUNGAN DENGAN SAMPAH NIHIL)

SEKOLAH LISAN (LINGKUNGAN DENGAN SAMPAH NIHIL)

Sekolah LISAN (Lingkungan dengan Sampah Nihil) adalah inovasi program pemberdayaan sekolah dalam
pengelolaan sampah.
Sekolah LISAN (Lingkungan dengan Sampah Nihil) merupakan upaya membentuk karakter siswa didik dengan cara
membiasakan mereka untuk bertanggungjawab terhadap sampah yang mereka hasilkan sendiri. Selama ini sekolah
masih membuang sampah dan bergantung pada pelayanan pengangkutan sampah, sehingga hampir semua
sekolah memiliki masalah dengan sampah yang mereka hasilkan. Sekolah LISAN mencoba membantu
memecahkan masalah tersebut melalui kegiatan-kegiatan yang sederhana dan dapat dilakukan tanpa harus
mengganggu proses belajar mengajar di sekolah.
Inovasi ini dilaksanakan dengan tahapan:

  1. Anjang Sana Anjang Sini Bank Sampah (ASAS BASA)
    Tahap awal ini adalah kunjungan/blusukan ke sekolah untuk mengetahui permasalahan pengelolaan sampah. Hal ini
    perlu dilakukan karena selain mempererat silaturahmi, melalui kegiatan ini dapat mengetahui keadaan sekolah
    secara langsung, dan mengetahui potensi apa yang harus dimaksimalkan. Setiap sekolah memiliki persoalan yang
    sama, namun potensinya berbeda-beda, untuk itu dialog dengan Kepala Sekolah sangat penting karena mereka
    merasa sangat diperhatikan, pencerahan dan solusi yang kami tawarkan menjadikan semangat mereka bangkit lagi
    dalam mengatasi permasalahan sampah di sekolah.
  2. Sosialisasi Bank Sampah (SOSIS BASA)
    Pada tahapan ini dilakukan sosialisasi di sekolah sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Sosialisasi secara
    umum dapat dilaksanakan pada saat upacara bendera, kegiatan imtaq, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah
    (MPLS) atau pada waktu tertentu sesuai permintaan sekolah. Dilanjutkan dengan sosialisasi khusus yang diikuti
    oleh perwakilan tiap kelas untuk membentuk Bank Sampah Sekolah. Selanjutnya sekolah membuat SK Kepala
    Sekolah tentang Pembentukkan BSS dan mengadakan perjanjian kerjasama dengan Bank Sampah Induk (Bank
    Sampah LISAN Kota Mataram).
  3. Pelatihan Bank Sampah (PLAT BASA)
    Pelatihan diberikan kepada pengurus BSS berupa pelatihan manajemen BSS, pemilahan sampah, pembuatan
    kompos/pupuk organik padat dan cair, pestisida organik, kerajinan berbahan baku sampah, dan pembuatan
    ecobrick.Kemudian Divisi Edukasi BSS bertugas untuk menyampaikan dan menularkan kepada siswa lainnya.
  4. Bank Sampah in Action (BASA iA)
    Adalah aksi nyata BSS dalam kegiatan-kegiatannya seperti, penimbangan sampah, pembuatan ecobrick, pembuatan
    kompos, pupuk organik cair dan pestisida organik serta pemanfaatan untuk kebun, taman dan apotik hidup sekolah,
    pembuatan kerajinan, penjualan sampah non organik ke Bank Sampah Induk. Bank Sampah Lisan Kota Mataram
    sebagai Bank sampah Induk menjemput sampah yang siap dijual, Jadwal dan cara pengambilan diatur dalam MoU
    antara Sekolah dan Bank Sampah Lisan Kota Mataram.
  5. Monitoring dan Evaluasi Bank Sampah (MONEV BASA)
    Kegiatan ini dilakukan langsung ke sekolah, dengan atau tanpa pemberitahuan sebelumnya untuk mengetahui
    perkembangan pelaksanaan inovasi Sekolah LISAN. Kemudian mengevaluasinya dan memberikan masukkan agar
    pelaksanaan dapat berjalan lebih baik lagi.
    Perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah dilaksanakannya Sekolah LISAN.
    Sebelum:
    Hampir semua sekolah mengalami masalah dengan sampah yang dihasilkan di sekolah. Cara yang paling mudah
    adalah menggunakan tenaga kebersihan sekolah yang dibayar untuk mengumpulkan, mengangkut dan membuang
    ke TPS atau kontainer terdekat. Cara tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar, Adapula yang masih membuat
    lubang, mengubur sampah bahkan membakar sampahnya. Cara ini mencemari tanah dan udara, membahayakan
    warga sekolah, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat di sekitarnya.
    Keadaan sekolah cenderung kotor, bahkan menimbulkan bau akibat sampah yang ditumpuk di bagian belakang
    halaman sekolah. Meskipun siswa dan guru tahu bahwa cara yang mereka lakukan tersebut sebenarnya keliru,
    mereka tidak dapat berbuat banyak. Ketika sampah ditempatkan di tong sampah sesuai jenisnya (organik, non
    organik, B3) namun tindaklanjutnya justru tidak seperti yang diharapkan. Sampah dikumpulkan petugas justru
    dicampur kembali menjadi satu untuk dibuang. Tindakan ini tidak mendidik bahkan menimbulkan pertanyaan bagi
    siswa yang kritis, “untuk apa dipilah kalau harus disatukan lagi dan dibuang?”
    Siswa belum dibiasakan untuk bertanggungjawab terhadap sampah yang dihasilkannya. Mereka tidak diberikan
    bimbingan bagaimana tindaklanjut setelah sampah dipilah sesuai jenisnya. Kalaupun ada kegiatan seperti pungut
    sampah sebelum masuk kelas, atau pencinta alam, pramuka dan lain sebagainya, tidak banyak membantu
    permasalahan persampahan di sekolah. Dengan kata lain masalah utamanya adalah sekolah belum tau harus
    berbuat apa, dan belum dapat memberikan edukasi nyata bagi siswa tentang pengelolaan sampah sekolah.
    Sesudah:
    Sekolah tidak langsung membuang sampahnya, tidak lagi membakar dan mengubur sampahnya, tetapi dikelola
    dengan baik sehingga tidak ada lagi pencemaran tanah dan udara yang membahayakan warga sekolah, lingkungan
    sekolah, dan lingkungan masyarakat di sekitarnya. Sekolah mendapatkan uang dari hasil sampah yang dijual oleh
    Bank sampah Sekolah dalam bentuk Tabungan Sampah.
    Keadaan sekolah bersih dan setelah dipilah, sampah kemudian diolah lebih lanjut sehingga tidak ada lagi yang harus
    dibuang.
    Siswa terbiasa bertanggungjawab terhadap sampah yang dihasilkannya. Mereka menerapkan ilmu yang didapatkan
    saat sosialisasi dan pelatihan, serta menjadikan Bank Sampah Sekolah sebagai wahana edukasi pengelolaan
    sampah sekolah. Bahkan kebiasaan inipun mereka terapkan di rumah masing-masing.
    Keunikan inovasi Sekolah LISAN :
  6. Bersifat Fleksibel, artinya tahapan inovasi dilakukan sesuai dengan karakter sekolah sehingga inovasi Sekolah
    LISAN dapat dilaksanakan oleh semua sekolah
  7. Sekolah menjalankan inovasi ini tanpa anggaran/biaya dari sekolah, tetapi sebaliknya, sekolah justru
    mendapatkan keuntungan finansial dan digunakan kembali untuk untuk kepentingan siswa dan sekolah
  8. Kebiasaan warga sekolah terutama siswa dalam pengelolaan sampah di sekolah, bisa mereka terapkan di rumah
    dan menularkannya pada anggota keluarga yang lain.

Leave a Reply