WAKUNCAR BUMIL DAN BADUTA (WAKTU KUNJUNGAN CARI IBU HAMIL DAN BAYI DUA TAHUN)

WAKUNCAR BUMIL DAN BADUTA (WAKTU KUNJUNGAN CARI IBU HAMIL DAN BAYI DUA TAHUN)

Masalah gizi yang menjadi perhatian dunia saat ini adalah anak balita pendek (stunting). Data Riset Kesehatan
Dasar tahun 2018 prevalensi balita stunting 34 % artinya 3-4 diantara 10 balita di Indonesia mengalami stunting.
Anak stunting tidak disebabkan oleh keturunan tetapi umumnya karena kekurangan gizi atau mengalami sakit dalam
waktu relative lama terutama pada usia 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Secara umum stunting terutama pada
1000 HPK dapat menyebabkan daya tahan tubuh rendah, kecerdasan rendah, dan produktivitas rendah ketika
dewasa.
Upaya peningkatan status gizi masyarakat tidak hanya cukup dengan meningkatkan perluasan jangkauan pelayanan
saja, tetapi perlu dibarengi dengan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat khususnya pada sasaran
1000 HPK.
Untuk memaksimalkan kegiatan lintas sektor sebagai upaya penguatan komitmen dalam perbaikan gizi secara
berkesinambungan sesuai dengan yang diamanatkan dalam UU no 23 tahun 2014 dimana kepala daerah wajib
melaksanakan Program Strategis Nasional diantaranya upaya pencegahan stunting melalui Perpres no 42 tahun
2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Gizi, maka diharapkan melalui kegiatan inovasi ini mampu mewujudkan
gerakan masyarakat peduli kesehatan khususnya pencegahan kasus stunting atau pendek.
Puskesmas Dasan Agung pada tahun 2018 melaunching kegiatan inovasi “WAKUNCAR BUMIL DAN BADUTA”
sebagai salah satu usaha dari implementasi “KAWAL 1000 HPK LAWAN STUNTING”. Inovasi ini dilakukan dalam
upaya mencegah terjadinya kasus stunting khususnya di wilayah kerja Puskesmas Dasan Agung, dengan penekanan
pada 3 komponen utama penanggulangan stunting yakni pola asuh, pola makan, air bersih dan sanitasi.
Inovasi ini merupakan langkah awal keterlibatan lintas program dan lintas sektor yakni kader, PKK
kelurahan, PLKB, Remaja, Toga/Toma, serta pemangku kebijakan seperti camat, lurah dan kepala lingkungan, dalam
upaya menekan kasus stunting khususnya di wilayah lingkungan Bawak Bagik Utara Kelurahan Dasan Agung
Kecamatan Selaparang. Kegiatan ini berupa kunjungan rumah ke sasaran dengan didampingi oleh kader posyandu
dan 5 (lima) pemegang program di puskesmas, yaitu program gizi, program P2 (Pencegahan Penyakit), program HS
(Higiene dan Sanitasi), program promkes, dan program KIA (Kesehatan ibu dan anak). Tindak lanjut dari hasil
kunjungan dapat berupa konseling langsung di lokasi, melakukan rujukan bilamana memerlukan pemeriksaan lebih
lanjut ke puskesmas dan koordinasi dengan lintas sektor terkait bilamana ada permasalahan yang tidak dapat
diatasi oleh puskesmas. Adapun intervensi yang dilakukan oleh masing-masing pemegang program pada saat
kunjungan rumah adalah :
Cek BTS ( Buka 1. Tudung Saji) oleh Program Gizi : Kegiatan ini menitikberatkan pada Pengukuran Antropometri
(berat badan dan Panjang badan) serta pengamatan jenis, jumlah, variasi makanan yang disajikan oleh ibu
sasaran.

  1. Cek Imunisasi dan Penyakit Infeksi oleh Program P2 : Kegiatan ini untuk memantau status imunisasi dengan
    mengamati buku KIA sasaran, pemantauan kejadian diare dan kecacingan.
  2. Cek Higiene dan Sanitasi (Kebersihan perorangan dan lingkungan) oleh Program HS : Kegiatan ini untuk
    memantau kebersihan perorangan, kondisi rumah dan lingkungan dengan melakukan inspeksi sanitasi sesuai
    dengan format yang telah ditentukan.
  3. Cek PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) oleh Program Promkes : Kegiatan ini untuk memantau pelaksanaan
    10 indikator PHBS sesuai dengan format yang telah ditentukan.
  4. Cek status KB (Keluarga Berencana) dan SDIDTK (Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang) :
    Kegiatan ini untuk mengetahui status KB dan melakukan intervensi SDIDTK untuk sasaran Baduta (Bayi Dua
    Tahun) dan cek kehamilan untuk sasaran ibu hamil.
    Dengan adanya inovasi ini maka koordinasi antar lintas program dan lintas sektor secara kontinyu dilakukan dalam
    upaya pencegahan stunting pada sasaran Bumil dan Baduta. Selain itu juga, inovasi ini telah memberikan pelayanan
    terintegrasi pada bumil dan baduta dalam pencegahan stunting pada “KAWAL 1000 HPK LAWAN STUNTING”,
    dengan melakukan intervensi pada semua unsur, mulai dari makanan, pola asuh, perilaku dan lingkungan.

Leave a Reply