STAR (SEKOLAH TANPA ASAP ROKOK)

Sekolah Tanpa Asap Rokok (STAR) merupakan sebuah komitmen yang dilakukan seluruh warga sekolah di SMPN 10 Mataram, mulai dari Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Tata Usaha, Siswa serta tamu yang datang ke sekolah. Komitmen ini kami buat setelah kami melihat banyaknya siswa kami yang sudah terpapar asap rokok secara tidak terkontrol baik dari lingkungan rumah, tempat bermain bahkan di sekolah. Rendahnya kesadaran beberapa warga sekolah yang merokok di lingkungan sekolah memberikan contoh nyata yang kemudian di replikasi oleh siswa. Selain itu, tingginya kasus pelanggaran tata tertib sekolah khususnya dari temuan siswa yang merokok semakin membuat kami harus berbenah. Pelanggaran kawasan tanpa asap rokok di sekolah bukan hanya terjadi di sekolah kami. Menurut penelitian AM. Lestari ((2019) bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan komitmen dalam penerapan kawasan tanpa asap rokok di 111 sekolah setingkat SMP/MTs di Brebes Selatan. Selain itu penelitian Yousef Arieka Marchel, Ratih Indraswari dan Novia Handayani (2019) bahwa berdasarkan penelitian dengan metode analisis bivariate menunjukkan terdapat hubungan implementasi kawasan tanpa asap rokok dengan ketersediaan sumber dana dan dukungan prasarana dan sarana. Serta tidak ada hubungan hubungan antara penerapan kawasan tanpa asap rokok dengan ketersediaan sumber daya manusia dan aturan kebijakan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa implementasi kawasan tanpa asap rokok di lingkungan sekolah, khususnya setingkat SMP masih belum maksimal,

Berdasarkan permasalahan tersebut, kami menghubungi yayasan gagas, yaitu sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berkecimpung dalam bidang kesehatan anak dan remaja. Sehingga salah satu guru BK kami diundang untuk mengikuti pelatihan guru champion yang langsung dilatih oleh Kementerian Kesehatan, AstraZanecca dan Yayasan Plan International melalui program Youth Health Programe (YHP). Untuk tahap selanjutnya, sekolah dengan bantuan Guru Champion membentuk Peer Educater (PE) yang berjumlah sepuluh orang.

Dalam aksi kami menuju sekolah tanpa asap rokok, kami melakukan pembaruan dengan melibatkan siswa yang tergabung dalam Peer Educater. Peer Educater merupakan seseorang yang termasuk dalam kelompok sebaya yang telah dilatih untuk membawa perubahan dalam pengetahuan dan sikap pada seseoarng dalam kelompok sebaya. Peer Educater secara aktif melakukan sosialisasi dan edukasi terhadap teman sebaya. Sosialisasi dan edukasi bahaya rokok dilakukan dalam berbagai kegiatan sekolah. keberhasilan siswa Peer Educater melakuan edukasi terhadap teman sebaya lainnya mencapai 90%, yaitu dari 921 siswa SMP N 10 Mataram sebanyak 281% siswa telah berhasil di edukasi dengan baik oleh Peer Educater.

Petunjuk Teknis Inovasi Daerah STAR dapat di download disini

Leave a Reply